Kualitas Air Bersih Bogor Menurun: HAKLI Tekankan Audit Rutin Sumber Mata Air Lokal
Kota Bogor, yang dikenal sebagai Kota Hujan, seharusnya tidak menghadapi kekurangan atau masalah dengan kualitas air bersih. Namun, seiring dengan pertumbuhan urbanisasi yang pesat dan pembangunan infrastruktur yang masif, HAKLI (Asosiasi Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia) Bogor telah mengamati tren penurunan kualitas air bersih di berbagai sumber mata air lokal. Kondisi ini menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat karena air yang terkontaminasi adalah vektor utama penyakit seperti diare dan Hepatitis A.
Penurunan kualitas air bersih di Bogor disebabkan oleh beberapa faktor yang saling berkaitan. Pertama, infiltrasi air limbah rumah tangga dan industri yang tidak dikelola dengan baik ke dalam air tanah. Kedua, pembangunan di daerah resapan air yang mengurangi kemampuan tanah untuk menyaring polutan secara alami. Ketiga, penggunaan pupuk dan pestisida di daerah hulu yang limpasannya masuk ke sumber mata air lokal. HAKLI mengingatkan bahwa air yang terlihat jernih belum tentu aman secara mikrobiologis dan kimia. Kontaminasi seringkali tidak terlihat mata, seperti keberadaan bakteri E. coli atau zat kimia berat.
Menghadapi situasi ini, HAKLI Bogor secara eksplisit menekankan audit rutin sumber mata air lokal. Audit ini bukan sekadar pengecekan tahunan, melainkan proses pengujian kualitas air yang dilakukan secara berkala dan konsisten pada parameter fisik, kimia, dan bakteriologis. Audit rutin ini harus dilakukan oleh Sanitarian yang bersertifikasi, yang memiliki kompetensi untuk mengambil sampel yang valid dan menganalisis hasilnya sesuai standar baku mutu air minum yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.
Audit rutin sumber mata air lokal yang ditekankan HAKLI harus mencakup beberapa langkah kunci. Pertama, pemetaan komprehensif seluruh sumber mata air lokal, baik yang digunakan untuk konsumsi publik maupun yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat. Kedua, penentuan jadwal pengujian berdasarkan tingkat risiko kontaminasi; sumber yang berada dekat dengan pemukiman padat atau kegiatan industri harus diuji lebih sering. Ketiga, pelaporan hasil audit yang transparan kepada masyarakat, diikuti dengan rekomendasi intervensi sanitasi yang diperlukan, misalnya klorinasi atau pemasangan filter sederhana.
Pentingnya audit rutin ini juga terkait dengan upaya konservasi dan perlindungan sumber mata air lokal. Jika hasil audit menunjukkan adanya penurunan kualitas air yang disebabkan oleh aktivitas di hulu, HAKLI dapat memberikan rekomendasi kebijakan kepada pemerintah daerah untuk membatasi atau melarang aktivitas yang mencemari di zona perlindungan mata air. Ini termasuk pengetatan izin mendirikan bangunan dan pengawasan ketat terhadap pembuangan limbah.


