Evaluasi Drainase Bogor: Apakah Sudah Cukup Untuk Minimalisir Penyakit?
Kota Bogor, dengan intensitas curah hujan yang sangat tinggi sepanjang tahun, memiliki ketergantungan yang luar biasa pada keandalan infrastruktur pengaliran airnya. Namun, pertumbuhan pemukiman yang pesat seringkali mengabaikan aspek resapan, sehingga beban saluran pembuangan menjadi sangat berat. Di tahun 2026, pemerintah daerah bersama para ahli kesehatan lingkungan melakukan Evaluasi Drainase Bogor mendalam terhadap kondisi drainase di seluruh wilayah kota dan kabupaten. Fokus utama evaluasi ini bukan hanya soal pencegahan banjir luapan, melainkan lebih kepada fungsi drainase sebagai sarana sanitasi lingkungan. Pertanyaan besarnya adalah: apakah sistem drainase Bogor saat ini sudah cukup efektif untuk meminimalisir penyebaran penyakit berbasis lingkungan yang sering muncul di musim penghujan?
Hasil evaluasi lapangan menunjukkan bahwa banyak saluran drainase di Bogor masih bersifat multifungsi, di mana air hujan bercampur dengan limbah domestik (grey water) dari rumah tangga. Kondisi air yang tergenang akibat tumpukan sampah dan sedimentasi yang tinggi menciptakan tempat perindukan ideal bagi vektor penyakit, terutama nyamuk Aedes aegypti penyebab Demam Berdarah Dengue (DBD). Kota Bogor mencatat angka kejadian DBD yang fluktuatif namun cenderung tinggi di area dengan drainase yang buruk. Evaluasi ini menekankan bahwa drainase yang sehat seharusnya mengalirkan air dengan lancar tanpa ada hambatan fisik, sehingga tidak ada air statis yang menjadi sarang penyakit bagi warga sekitar.
Selain masalah vektor, drainase yang tidak terintegrasi dengan baik juga berkontribusi pada penyebaran penyakit kulit dan diare. Saat hujan lebat, air drainase yang tercemar seringkali meluap dan masuk ke dalam rumah atau mencemari sumur dangkal milik warga. Tenaga sanitarian di Bogor melakukan pengujian kualitas air di wilayah-wilayah terdampak luapan drainase dan menemukan konsentrasi bakteri koliform yang melampaui batas aman. Hal ini membuktikan bahwa evaluasi infrastruktur fisik harus dibarengi dengan perbaikan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah. Drainase secanggih apa pun tidak akan mampu meminimalisir penyakit jika masih digunakan sebagai tempat pembuangan sampah plastik yang menyumbat aliran.
Pemerintah Kota Bogor mulai mengadopsi konsep “Drainase Berwawasan Lingkungan” atau ekodrainase sebagai hasil dari evaluasi ini. Alih-alih hanya mengalirkan air secepat mungkin ke sungai, sistem baru ini mendorong peresapan air ke dalam tanah melalui sumur resapan dan lubang biopori di sepanjang saluran.


